Selamat Datang Di Ruang Rindu

Kamis, 17 April 2014

Lembayung Senja



Ada rona yang dilukiskan pada latar langitnya
Merah membara bersama lembayung senja
Aku jejaki purnama yang tenggelam dibalik awan

Aku ingin terbenam bersama cinta sang angin
Dinginnya membuat raga menggigil dan membeku
Kehangatkannya memberi aroma rasa syahdu


Gemerisik diantara ruang ruang yang kian sunyi
Karena ada bisikan tentang kegelisahan relung hati

Ketika senja turun bukit serasa tak berpenghuni
Kenalilah musim hujan yang akan membasuh bumi
dan kemarau panjang yang akan singgah menepi
yang meranggaskan daun daun kering setiap hari

Diantara dua musim cintaku akan tetap bersemi
Rindu ku akan selalu menggumpal di relung hati

Duhai sang hati,
Hari hariku adalah catatan tentang cinta suci
Yang tersulam indah di peraduan malam ini.

Senin, 24 Februari 2014

Kau Merasa Menjadi Sesuatu yang Tak Kau Pahami



Serupa gerimis, puisi menyimpan tangismu diamdiam, turun perlahan, di malam yang tak pernah kau akui mencintai sepinya.

Sebuah sajak kau nyalakan di malam yang demikian rapuh, serapuh dadamu yang tak mampu menahan tangis.


Kau merasa menjadi malam yang tak pernah dicintai, selain dikutuk mercusuar yang sepi, laut yang gaduh dan perahu yang kehilangan arah.

Engkau merasa menjadi perahu kecil yang terombang ambing di laut badai di kerdip pasi cahaya mercusuar yang sepi.

Engkau merasa menjadi badai di laut yang gaduh memecah di pantai yang jauh menghempashempas tak henti.

Kau merasa menjadi mercusuar di laut badai, kerdip demikian sepi, di dalam deru, demikian pasi cahaya, demikian sepi.